Blog

  • Pendidikan Karakter

    Tak terlihat namun bisa dirasakan

    Dia agak naif namun sulit diremehkan

    Buku yang kubaca rasa maknanya menjadi

    Seluas samudra

    Dia karakter…

    Seperti perubah

    Perubah pendidikan menjadi lebih hidup dan

    bermakna

    Dia pendidikan yang membentuk…

    Membentuk karakter menjadi lebih berwarna dan

    berbeda

    Pendidikan itu jiwa

    Karakter itu raga

    Mereka tidak bisa dipisahkan

    Memisah mereka berarti menghancurkan identitas bangsa

    Raga tanpa jiwa

    Mati tak berdaya

    Jika tanpa raga

    Hidup tak berguna. Maka

    Dia jangan dipisahkan

    Dia harus disatukan

    Agar mereka bisa menghidupkan identitas bangsa

    penulis:
    Oktavia Nur Azizah

  • Seminar Inspiratif untuk Pendidikan Generasi Tangguh

    Aku Aminah, seorang siswi kelas XI di salah satu MA Negeri di Surabaya. Kota pahlawan ini adalah tempat tinggalku. Hari ini, Kamis yang cerah ini, sekolah kami mengadakan seminar alumni yang sangat dinanti. Narasumbernya adalah lulusan terbaik sekolah yang kini menjadi seorang mahasiswa berprestasi di bidang keagamaan di salah satu universitas ternama Surabaya. Tujuan acara ini sungguh mulia yaitu menginspirasi dan memotivasi kami, para siswa kelas XI, sekaligus menekankan betapa pentingnya pendidikan, bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga pendidikan karakter, dalam menapaki kehidupan masa depan. Aku dan teman-teman sudah tidak sabar menyerap ilmu dan semangat dari kakak alumni ini.

    Bel istirahat berbunyi nyaring, dan tanpa menunda, aku bergegas menuju ruang seminar bersama sahabatku. Ruangan itu sudah dipenuhi oleh teman-teman yang antusias. Tak lama kemudian, sosok kakak mahasiswa itu memasuki ruangan dengan senyum ramah. Beliau menuju podium, memperkenalkan diri dengan hangat, dan menyambut kehadiran kami dengan penuh sukacita.

    Materi yang beliau sampaikan sungguh menggugah. Bukan hanya tentang pentingnya meraih gelar, tetapi juga tentang bagaimana pendidikan karakter menjadi fondasi utama untuk membangun generasi yang tangguh dan berakhlak mulia. Beliau menekankan bahwa kecerdasan intelektual tanpa diimbangi dengan moral yang kuat akan rapuh. Kakak alumni itu juga memberikan gambaran yang cukup memprihatinkan tentang sebagian generasi masa kini yang tergerogoti rasa malas dan kurang memiliki etos kerja. Beliau mengingatkan bahwa karakter yang kuat, seperti kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab, adalah bekal utama untuk menghadapi tantangan zaman dan meraih kesuksesan sejati. “Pendidikan karakter adalah kompas yang akan menuntun kalian melewati badai kehidupan,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Di penghujung acara yang sarat makna ini, aku dan seluruh murid berkesempatan menyalami kakak alumni tersebut dan menyampaikan ucapan terima kasih. Kata-kata beliau telah membuka cakrawala pikiranku dan semakin menguatkan keyakinanku bahwa setelah lulus dari MAN, aku tidak hanya akan mengejar cita-cita akademis di bidang pendidikan agama, tetapi juga berupaya untuk terus mengembangkan karakter diri menjadi pribadi yang berintegritas dan bermanfaat bagi sesama. Seminar ini bukan hanya memberikan inspirasi, tetapi juga menanamkan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi yang kokoh bagi masa depan yang gemilang dan berakhlak.

    penulis:
    Siti Aminatuz Zuhriyah (X-1)

  • Hari Pendidikan Nasional: Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

    Hari Pendidikan Nasional: Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua

    Klotok, 03 Mei 2025 – Peringatan hari pendidikan nasional (Hardiknas) diperingati pada tanggal 02 Mei 2025 kembali menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk memajukan dunia pendidikan. Tahun 2025 ini, peringatan Hardiknas diwarnai dengan berbagai kegiatan yang menunjukkan semangat kolaborasi dan inovasi demi pendidikan yang lebih bermutu dan merata.

    Di MA Al Qudsiyah, melaksanakan apel peringatan hardiknas digelar dengan tertib dan lancar. Dengan diikuti siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Para siswa tampak mengenakan seragam coklat pramuka, menambah semarak peringatan hari bersejarah ini.

    Bertindak sebagai pembina apel, Ach. Baidhowi, S.Pd.I menyampaikan amanat sesuai dengan tema yang disampaikan oleh pemerintah yakni partisipasi semesta wujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Semangat partisipasi semesta ini tercermin dalam berbagai inisiatif yang muncul di Hari Pendidikan Nasional 2025. Untuk mendapatkan partisipasi alam semesta terdapat berbagai cara yakni bersyukur atas diri sendiri, meluruskan kembali niat datang ke sekolah dan menghormati serta mengambil ilmu yang bermanfaat dari setiap guru.

    (Doc: kegiatan apel peringatan Hardiknas)

    Peringatan Hardiknas tahun 2025 menjadi momentum untuk menginspirasi lebih banyak siswa agar berani berinovasi, berkolaborasi, dan mengambil peran aktif dalam memajukan pendidikan. Semangat “Bergerak Bersama” dimulai dari pribadi siswa dan guru saling berinteraksi dan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Dengan partisipasi aktif siswa, diharapkan cita-cita pendidikan bermutu untuk semua dapat segera terwujud, menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

    penulis:
    Siti Muzayana, S.Sos.
    Guru Prakarya

  • Prinsip-prinsip Pendidikan Nabi Muhammad dan Sahabat: Landasan Pembentukan Generasi Berakhlak Mulia

    Pendidikan dalam Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berpengetahuan luas. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat telah memberikan contoh pendidikan yang sangat baik dan patut dijadikan teladan sepanjang zaman.

    Kasih Sayang sebagai Pilar Utama Pendidikan

    Salah satu fondasi penting dalam pendidikan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah penekanan pada kasih sayang. Sikap lemah lembut Nabi terhadap anak-anak, seperti yang terlihat dalam interaksinya dengan Anas bin Malik, menjadi teladan yang berharga. Ketika Anas yang masih kecil tidak segera kembali setelah disuruh berbelanja karena asyik bermain, Nabi tidak memarahinya. Beliau memahami fitrah anak-anak yang membutuhkan waktu untuk bermain dan bersosialisasi. Tindakan ini mengajarkan bahwa pendidikan yang dilandasi kasih sayang akan menumbuhkan hubungan yang positif antara pendidik dan peserta didik, membangun rasa hormat, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

    Pendidikan yang Berorientasi pada Tahapan Usia

    Sahabat Ali bin Abi Thalib memberikan wawasan mendalam mengenai pentingnya pendekatan pendidikan yang berbeda sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak. Beliau membagi fase pendidikan menjadi beberapa periode penting:

    • Usia 1-7 tahun: Pada masa ini, anak-anak hendaknya diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Segala kebutuhan mereka dipenuhi, menciptakan rasa aman dan nyaman sebagai landasan perkembangan selanjutnya.
    • Usia 7-14 tahun: Periode ini adalah masa di mana potensi dan perkembangan anak mulai tampak. Mereka perlu diarahkan, didukung penuh dalam setiap langkah kemajuannya, dan diberikan apresiasi yang membangun.
    • Usia 14-21 tahun: Memasuki usia remaja, perhatian khusus terhadap pergaulan dan lingkungan menjadi krusial. Masa ini rentan terhadap pengaruh negatif, sehingga bimbingan dan pengawasan yang bijaksana sangat diperlukan.
    • Usia 21 tahun ke atas: Setelah mencapai kedewasaan, individu diperlakukan setara. Pendapat mereka dihargai, dan kemandirian mereka didukung, layaknya berinteraksi dengan sesama orang dewasa.

    Menanamkan Nilai Kejujuran sebagai Esensi Pendidikan Karakter

    Umar bin Khattab memberikan penekanan yang kuat pada pentingnya kejujuran sebagai landasan pendidikan karakter. Kisah beliau menikahkan putranya dengan seorang penjual susu yang dikenal kejujurannya adalah contoh nyata betapa nilai ini dianggap sangat penting dan mendasar. Tindakan ini menggarisbawahi bahwa pendidikan tidak hanya tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan integritas moral yang kokoh.

    Kesimpulan: Mengamalkan Teladan Pendidikan Nabi dan Sahabat

    Dari contoh-contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, jelaslah bahwa pendidikan dalam Islam mencakup dimensi kasih sayang, pemahaman terhadap tahapan perkembangan anak, dan penanaman nilai-nilai luhur seperti kejujuran. Mengaplikasikan prinsip-prinsip pendidikan ini dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, adalah kunci untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia, integritas yang tinggi, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi umat dan bangsa. Oleh karena itu, teladan pendidikan dari Rasulullah dan para sahabatnya harus terus dihidupkan dan diamalkan dalam upaya membangun generasi penerus yang berkualitas.

    Penulis:
    Ach. Baidhowi, S.Pd.I
    Pengasuh Pondok Al Qudsiyah
    Kepala Madrasah Aliyah Al Qudsiyah
    Wakil Ketua Pengurus Cabang Ansor Tuban  

  • “Untuk Kartini: Dalam Diam Kami Menangis”

    Oleh: Anjani Ainur Rosyada (XI-2)

    Ibu.

    Kau tak berteriak

    tapi suara hatimu mengguncang zaman.

    Kau tak mengangkat pedang.

    Namun luka-lukamu

    menjadi tangga bagi kami yang ingin terbang.

    Dulu dunia mengikat tanganmu

    tapi kau menulis dengan jiwa—

    dan dari jemarimu

    lahir keberanian kami semua.

    Kini kami berdiri.

    dengan air mata yang kau tebus dulu,

    dan dalam setiap langkah, ada doamu yang tak pernah layu.

  • Langkah Kecilku, Mimpi Besarku

    Oleh: Meyla Dinar Wulan Sari (XI-2)

    Namaku Aira. Aku lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di pinggiran kota. Sejak kecil aku sudah terbiasa melihat bagaimana perempuan di kampungku lebih sering berkutat di dapur dari pagi hingga petang. Kota orang-orang, perempuan cukup bisa memasak, berbenah, bersih-bersih, dan nanti menitik titik. Tapi aku selalu merasa… ada yang lebih dari itu.

    Aku juga membaca. Banyak sekali cerita yang memberiku mimpi. Aku ingin kuliah. Aku ingin berdiri di depan kelas, tidak hanya menyajikan minuman. Tapi rupanya, punya mimpi saja kadang bisa membuatmu terlihat aneh di mata orang lain.

    “Ngapain sih kamu sekolah tinggi-tinggi, Ra?” tanya Bu Rina, tetangga sebelah yang −sayangnya juga kami kenal sangat “suami-suami”.

    Aku hanya tersenyum saat itu. Tapi dalam hati, batinku bergejolak seperti deru.

    “Perempuan itu lemah, Ra,” kata Pak Jono suatu hari. “Urusan terpentingnya di bangsa adalah…”

    Aku diam. Tapi aku tidak berhenti belajar. Setiap hari aku bantu ibu di warung kecil kami. Sambil sesekali aku menyelinap membaca buku di bawah remang lampu minyak. Ayah sudah tiada sejak aku SMP. Dan sejak itu, orang-orang seolah punya banyak berharga bagiku. Ya… terlalu banyak.

    Namanya Risa. Usianya lima tahun lebih tua dariku. Dulu dia sempat kuliah tapi berhenti demi membantu ibu. Sejak ayah meninggal. Sejak itu, dia bekerja serabutan. Dia tidak pernah bercerita banyak tentang mimpinya. Seolah, dunianya dia rajut dengan kepasrahan.

    “Ra, kamu ‘kan mau kuliah? Kalau nggak punya biaya,” katanya suatu itu. “Aku akan cari. Pasti ketemu. Yang penting kamu butuh izin restu,” jawabnya mantap.

    Dia menatapku lama-lama. Mengisyaratkan pelukan. Karena kami yakin… Abang datang. Tapi kami harus lebih kuat dan menyimpan mimpi orang-orang.

    Kalimat itu menancap dalam di hati. Sejak saat itu, Abang jadi pelindung yang diam-diam menguatkanku. Ia sering memberiku pinjaman buku-buku bekas. Dan saat aku mulai meragukan diri sendiri, Abang yang paling keras menyemangatiku.

    Akhirnya aku mendaftar ke perguruan tinggi negeri di kota. Aku hanya berbekal satu hal, yaitu keyakinan lewat keajaiban.

    Hari pengumuman tiba. Tanganku gemetar membuka amplop. Dan saat kulihat kata “DITERIMA” terpampang di layar, aku menangis sejadi-jadinya. Ibu memeluk erat, dan abang berdiri di belakang kami. Matanya sembab.

    “Abang bangga sama kamu, Ra. Teruslah melangkah,” ucapnya lirih.

    Hari-hari berangkat kuliah, orang-orang dulu mencibir, berbalik melotot dan keheranan. Ada yang tersenyum kaku, ada yang hanya diam. Tapi aku tidak butuh pengakuan mereka. Aku hanya ingin membuktikan pada perempuan juga Risa.

    Kini, aku sudah semester lima. Aku sering pulang ke desa untuk mengajar anak-anak kecil di sana. Bu Rina pernah datang dan berkata, “Ternyata kamu juga hebat, Ra. Maaf ya dulu tante suka ngomong sembarangan.”

    Aku hanya tersenyum. Abang sering mengantarku ke tempat les. Mengajar, meski dia sendiri masih harus kerja serabutan. Katanya, melihatku mengejar mimpi adalah energinya menjaga mimpi yang dulu ia tinggalkan.

    Di malam yang sunyi, aku duduk di beranda rumah bersama Ibu dan Abang. Aku menatap bintang-bintang di langit. Hatiku bergetar pelan. “Ternyata menjadi perempuan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Pendidikan bukan hanya milik laki-laki. Aku ingin semua anak perempuan tahu… kita bukan makhluk lemah seperti yang orang bilang. Kita hanya butuh kesempatan untuk membuktikan bahwa kita bisa berdiri sama tinggi. Bahkan mungkin lebih tinggi. Dan tak ada yang lebih indah selain melihat kearifan baru yang kita perjuangkan sendiri.”

  • Semarak Peringatan Hari Kartini di MA Al Qudsiyah: Mengenang Jasa Pahlawan Emansipasi Wanita

    Semarak Peringatan Hari Kartini di MA Al Qudsiyah: Mengenang Jasa Pahlawan Emansipasi Wanita

    Klotok – Suasana khidmat dan penuh semangat terasa di Madrasah Aliyah Al Qudsiyah pada hari Senin, 21 April 2025 dalam rangka memperingati Hari Kartini. Acara yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf sekolah ini bertujuan untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini sebagai tokoh pelopor emansipasi wanita di Indonesia serta meneladani semangat perjuangannya. Rangkaian acara peringatan Hari Kartini di Madrasah Aliyah Al Qudsiyah dimulai dengan upacara bendera yang berlangsung dengan tertib dan khidmat. Dalam amanatnya, Ibu Siti Luthfiyah, S.Pd.I, menyampaikan pidato yang menginspirasi tentang penghargaan dan refleksi terhadap perjuangan R.A. Kartini bagi emansipasi perempuan Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan, serta ajakan untuk melanjutkan semangatnya dalam berbagai aspek kehidupan.

    “Semangat Kartini adalah semangat untuk terus maju, tidak mudah menyerah, dan berani bermimpi besar.” Ujarnya. Kartini adalah pelopor emansipasi wanita Indonesia melalui perjuangan pendidikan dan kesetaraan. Semangatnya untuk maju, pantang menyerah, dan bermimpi besar relevan bagi semua, terutama generasi muda, untuk terus berkembang dan berkontribusi. Hari Kartini mengingatkan pentingnya pendidikan untuk kebebasan dan menginspirasi kita semua melanjutkan cita-cita Kartini tentang keadilan dan kesetaraan.

    (dok: kegiatan upacara bendera peringatan Hari Kartini)

    Usai upacara bendera, peringatan Hari Kartini di MA Al Qudsiyah juga diwarnai dengan kompetisi yang mengasah kemampuan literasi siswa, yaitu lomba puisi, cerita pendek, cerita bergambar, komik, pantun dan foto yang disertai dengan caption sesuai tema yaitu “Pentingnya Pendidikan Perempuan.” Lomba ini mendapat sambutan meriah dari para siswa yang memiliki minat dan bakat dalam bidang literasi. Melalui karya-karya mereka, para peserta menuangkan pemikiran mendalam tentang urgensi pendidikan bagi kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pengembangan diri, peningkatan kualitas hidup, hingga kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara.

  • Ruang Literasi dan Sastra MA Al Qudsiyah (Risalah)

    CERITA RINDU
    Febbi Dian Amalia Sari (xii-1)

    Semesta memang adil
    Keindahan sebuah pertemuan
    Akan semakin pekat saat bersama
    Kapan kita akan bertemu lagi
    Dan berbagi cerita yang kita punya

    akupun tak tahu kapan penantian akan berakhir
    Ku rindu suasana saat kita bersama
    Berbagi cerita suka maupun duka
    Ku rindu tempat kita bersama
    Sederhana namun istimewa

    Baru kusadari kalau kalian sangat berarti
    Kalian ada saat dunia tak memihak kita
    Semoga kita cepat berjumpa
    Semua cerita tentang rindu

    Stok Terbatas
    CP. 0857 0749 7087
  • Maulid Nabi Muhammad SAW. se-Yayasan Al Qudsiyah

    27 Oktober 2020, Alhamdulillah Penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW. 2020 se-Yayasan Al Qudsiyah Klotok berjalan dengan lancar dan khidmat.

    Meski dengan Keadaan Pandemi seperti sekarang ini kegiatan peringatan Hari besar Islam dilangsungkan secara sederhana dan tetap mematuhi protokol kesahatan, ungkapan syukur atas anugerah Allah yang telah menunjukkan jalan keselamatan bagi kita melalui utusan-Nya; juga hendaklah kita niatkan sebagai penghormatan atas kecintaan kepada beliau, dengan tujuan agar lebih banyak lagi memperoleh suri teladan dan kisah perjuangan beliau untuk kita teapkan dalam perjalanan hidup kita sehari-hari agar kelak kita benar-benar mendapatkan syafa’at beliau.

    Penyelenggaraan kegiatan ini terwujud atas kerjasama semua lembaga yang ada dalam naungan Yayasan Al Qudsiyah Klotok, serta dukungan dari tokoh masyarakat dan para ulama’. kegiatan diikuti oleh seluruh siswa siswi mulai dari RA, MI Husnul Aulad, MTs dan MA Al Qudsiyah.

    Pembacaan Sholawat Shimtudduror, Sholawat Basyairul Khoirot, oleh K. Muhammad Aqib bersama para siswa siswi RA, MI Husnul Aulad, MTs dan MA Al Qudsiyah berlangsung sacara khidmat, dengan kegiatan tersebut diharap dapat memetik hikmah dan pelajaran dari momentum Maulid Nabi ini.

  • KSMO Tingkat JATIM MA AL Qudsiyah Klotok

    Alhamdulillah delegasi MA Al Qudsiyah Klotok yang mengikuti kompetisi sains madrasah online (KSMO) Jatim 2020, yang dilaksanakan di MAN 2 Tuban pada senin, 27 Oktober 2020

    KSMO Jatim merupakan sebuah kegiatan yang digelar dan diadakan oleh Kementerian Agama Jawa Timur sebagai wahana membangun ghirah kompetisi sains, agama dan bahasa di kalangan siswa madrasah. Berdasarkan dasar pemikiran di atas, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur melalui Bidang Pendidikan Madrasah akan menyelenggarakan kegiatan Kompetisi Sains Madrasah Online Jawa Timur Tahun 2020.

    Dalam ajang kompetisi ini ada tiga jenjang yang dilombakan yaitu tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Untuk Madrasah Aliyah (MA) terdiri dari Mapel Matematika, IPA dan IPS. Semuanya terintegrasi dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Madrasah Aliyah: Matematika, Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi dan Geografi terintegrasi.

    Siswa siswi yang terpilih melalui seleksi di Madrsah kemudian terpilih untuk mewakili MA Al Qudsiyah di KSMO tingkat Jatim yakni : 1. Febbi Dian Amalia Sari XII-1 (Geografi), 2. Iffa Nur Aida XII-1 (Bahasa Inggris), 3. Mira Khoirun Nisa XII-2 (Matematika), 4. Marni Mariyani XI-2 (Ekonomi), 5. Mar’atus Sholihah X-2 (PAI), 6. Zumaroh XI-1 (PAI), 7. Faizah Nur Qanitah XII-2 (Biologi).

    KSM0 Jatim 2020 dilaksanakan secara online dan bertempat di MAN 2 Tuban dimana ditempat ini menjadi titik pelaksanaan KSMO Jatim wilayah KKM MAN 2 Tuban. Adapun pelaksanaannya terbagi dalam 3 sesi yaitu sesi.