Blog

  • TERAPKAN DASA DHARMA, MA AL QUDSIYAH LAKUKAN AKSI PENGHIJAUAN DENGAN TANAMAN HIAS

           Klotok, 15 November 2025 – MA Al-Qudsiyah menggelar kegiatan penanaman dan penghijauan di lingkungan sekolah pada hari Rabu, 12 November 2025. Inisiatif ini dilatarbelakangi oleh semangat pendidikan karakter, terutama implementasi Dasa Dharma Pramuka, serta kebutuhan untuk meningkatkan kualitas lingkungan fisik sekolah.

          “Sebagai Pembina Pramuka, saya merasa penting untuk mengamalkan dasa dharma kedua, yaitu cinta alam dan kasih sayang sesama. Kegiatan ini adalah wujud bakti nyata adik-adik Pramuka pada lingkungan sekolah,” ujar kak Zayadi Achyar selaku pembina pramuka di sekolah, salah satu penggagas kegiatan ini.
          Selain itu, kondisi lingkungan sekolah yang sering terasa panas dan kurang asri menjadi perhatian utama. Penghijauan ini bertujuan menciptakan lingkungan yang sejuk, nyaman, dan indah, selaras dengan konsep green school/adiwiyata, sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar. Kesadaran global akan perubahan iklim dan pentingnya menyerap karbon juga menjadi dorongan bagi sekolah untuk berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    (Doc. penanaman dan penghijauan di lingkungan sekolah)

          Program ini merupakan hasil kolaborasi seluruh warga sekolah. Kepala Madrasah memberikan dukungan penuh, guru bertindak sebagai fasilitator, dan siswa dari anggota OSIS dan Dewan Ambalan menjadi pelaksana utama. Dukungan eksternal juga turut berperan, dengan sumbangan bibit tanaman, media tanam, dan dukungan moral.

    Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menumbuhkan karakter peduli lingkungan dan rasa tanggung jawab siswa terhadap tanaman yang mereka tanam. Kegiatan ini juga menjadi media belajar langsung tentang ekosistem, jenis-jenis tanaman, dan cara perawatannya. Selain itu, kegiatan ini bertujuan mewujudkan dasa dharma dan menjadikan gugus depan sebagai Pangkalan Ramah Lingkungan yang aktif dalam kegiatan sosial dan konservasi alam.

    Fokus penanaman kali ini adalah pada tanaman bunga atau tanaman hias. “Kami memilih tanaman bunga untuk menciptakan suasana sekolah yang indah, ceria, dan estetik,” jelas kak Achyar. Jenis tanaman yang dipilih adalah yang memiliki daya tahan baik, warna yang mencolok, dan mudah dirawat oleh siswa, seperti tanaman pucuk merah, Bougenville, mawar, dan tanaman hias lainnya.        Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan MA Al-Qudsiyah dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dan menumbuhkan kesadaran lingkungan pada generasi muda.

    penulis:

    Meyla Dinar Wulan Sari (XII-2)

  • MASA DEPAN GEMILANG DI TANGAN GEN-Z: APA YANG HARUS MEREKA PERJUANGKAN?

         Kami, Generasi Z, sering disebut sebagai generasi yang serba digital dan serba instan. Namun, kami sepenuhnya sadar bahwa di balik kemudahan teknologi, kami dihadapkan pada tantangan struktural yang berat. Kami harus berhadapan dengan krisis literasi digital di tengah derasnya arus informasi, pelebaran kesenjangan sosial-ekonomi, hingga tekanan serius pada kesehatan mental kami. Belum lagi ancaman global seperti perubahan iklim dan perjuangan panjang untuk kesetaraan hak. Semua tantangan ini terasa berat, namun kami yakin, tantangan adalah pemicu untuk bergerak, bukan alasan untuk menyerah.

         Masa depan yang gemilang tidak akan terwujud tanpa perjuangan aktif. Untuk menggapainya, kami harus memfokuskan energi pada sembilan pilar utama. Pertama, kami harus mengubah cara kami memandang pendidikan dan literasi. Kami tidak hanya cukup bisa scrolling dan memakai aplikasi, tetapi harus menguasai literasi digital secara kritis dan menuntut akses pendidikan berkualitas yang merata. Kami wajib memanfaatkan teknologi untuk mengasah skill yang benar-benar relevan di era digital ini.

         Kedua, isu kesehatan mental adalah prioritas kami. Kami harus berjuang untuk menghilangkan stigma dan memastikan setiap orang punya akses untuk mencari bantuan. Kami berkomitmen menciptakan lingkungan yang suportif dimana membicarakan isu mental health adalah hal yang normal dan diterima.

          Secara sosial, kami harus lantang memperjuangkan kesetaraan hak dan keadilan sosial, serta berupaya menutup kesenjangan ekonomi. Kami harus menjadi agen perubahan yang memastikan keadilan dirasakan oleh semua, tanpa terkecuali. Sementara itu, di tingkat global, kami harus memimpin aksi nyata untuk melawan perubahan iklim dan melindungi lingkungan. Bumi ini rumah kami, dan kami harus menjadi pemimpin dalam upaya pelestariannya.

         Perjuangan juga harus dilakukan di ranah publik dan ekonomi. Kami harus meningkatkan partisipasi politik kami; politik bukan lagi urusan orang tua, melainkan cara kami mengklaim hak-hak sebagai warga negara. Selain itu, kami didorong untuk mengembangkan keterampilan dan inovasi, berani menjadi pengusaha muda dalam ekonomi kreatif, dan menciptakan solusi orisinal, bukan sekadar menunggu pekerjaan.

         Terakhir, kami percaya pada kekuatan kolaborasi. Kami adalah jembatan yang harus meningkatkan kerja sama antar generasi dan antar komunitas. Di tengah semua perjuangan ini, kami harus tetap bangga dengan kesadaran budaya dan identitas kami, menjadikannya modal untuk melestarikan warisan bangsa.

          Masa depan gemilang hanya dapat digapai jika kami bergerak dari kesadaran menjadi aksi nyata. Kami harus menjadi pemimpin yang inspiratif, memotivasi teman-teman untuk ikut bergerak. Dengan bekal kesabaran dan ketekunan untuk tidak mudah menyerah, kami yakin Gen Z akan menjadi agen perubahan yang transformatif dan mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan makmur. Masa depan gemilang benar-benar ada di tangan kami, dan kami siap memperebutkannya.

    penulis:

    Almira Septia Fitriani (X-1)

  • CAHAYA DARI MASA LALU

    Hari itu, kelas X-2 dipenuhi cahaya matahari yang hangat. Bu Nanik, guru sejarah yang terkenal tegas tapi penuh ide kreatif, berdiri di depan kelas sambil menyalakan proyektor. Di tangannya, laptop terbuka, menampilkan layar putih dengan judul besar: “Proyek Hari Pahlawan: Jejak Digital.”

    Anak-anak kelas X-2 menatap penasaran. Bu Nanik tersenyum tipis, matanya bersinar menandakan antusiasme yang jarang terlihat.

    “Anak-anak, hari pahlawan tahun ini kita akan membuat proyek berbeda. Bukan poster maupun esai. Tapi video dokumenter.” Ujarnya pelan tapi jelas

    Suasana kelas langsung heboh.

    “Video dokumenter tentang apa, Bu?” Tanya salah satu murid.

    “Tentang pahlawan lokal yang kisahnya hampir terlupakan,” jawab Bu Nanik. “Zaman sudah berubah. Kalau dulu perjuangan ditulis di kertas, sekarang kita punya cara lain. Kita bisa mewujudkan sejarah melalui jejak digital.

    Murid-murid terbagi menjadi beberapa kelompok, mereka diberi waktu seminggu untuk mengerjakan tugas tersebut. Masing-masing kelompok mencari cerita tentang pahlawan yang kurang dikenal, baik di lingkungan sekitar maupun di keluarga mereka.

    Salah satu kelompok dipimpin oleh Maya memulai pencarian dan bertanya pada warga sekitar sekolah. Tidak ada yang menyangka bahwa di gang kecil dekat pasar, tinggal seorang nenek bernama Nyi Sumarni, mantan pengantar logistik untuk pejuang kemerdekaan.

    Nyi Sumarni menyambut mereka dengan senyum lembut. Suaranya serak, tetapi penuh keberanian ketika menceritakan masa lalunya.

    “Dulu, saya pura-pura menjualan sayur. Padahal di bawah tumpukan kol, ada surat rahasia untuk para pejuang.

    Risa, salah satu teman kelompok Maya mulai merekamnya dengan kamera ponsel. Tangan keriputnya bergetar saat memegang foto lama berisi wajah teman-temannya yang sudah tiada.

    “Waktu itu saya takut, nak. Tapi kalau saya mundur, siapa yang akan meneruskan pesan itu?”

    Kalimat itu membuat mereka semua terdiam.

    Seminggu berlalu dengan cepat, hari presentasi tiba. Lampu kelas diredupkan, dan setiap kelompok memutar videonya. Ada dokumenter tentang mantan perawat medis, penjaga pos ronda yang dulu ikut mempertahankan kampung, hingga kisah pahlawan tak dikenal yang makamnya tersembunyi di dekat sawah.

    Ketika video kelompok Maya diputar, suara Nyi Sumarni memenuhi ruangan. Ceritanya sederhana namun menyentuh.

    Saat video selesai, murid-murid di kelas terdiam. Hanya terdengar hembusan nafas dan suara proyektor yang perlahan mati.

    Bu Nanik tersenyum bangga. “Bagus anak-anak, kalian telah memberi mereka tempat di masa kini. Itulah kekuatan jejak digital. Merekam, menyimpan dan menyebarkan kisah-kisah ini adalah salah satu cara membangun masa depan yang gemilang.”

    Video-video itu kemudian diunggah ke media sosial sekolah. Tak disangka, banyak orang menonton dan membagikannya. Warga sekitar mengirim komentar positif, dan keluarga Nyi Sumarni mengirim pesan terimakasih karena kisah beliau kini dikenang kembali.

    Bu Nanik menatap layar laptopnya, tersenyum hangat. Baginya, ini adalah bukti bahwa perjuangan tidak selalu tentang angkat senjata. Kadang, perjuangan ada di balik kamera, keyboard dan di balik layar kecil yang memancarkan cahaya.

    penulis:

    Mufaridatul Khoiriyah (X-2)

  • MENYULAM MASA DEPAN DARI JEJAK PAHLAWAN

    Di bawah langit merah putih yang berkibar,

    Terdengar bisik waktu yang tak pernah pudar.

    Tentang perjuangan di tanah berdebu,

    Tentang nyawa yang gugur demi satu.

            Dari jejak perjuangan itu kita berpijak,

            Menatap mentari dengan dada tegak.

             Bukan lagi dengan bambu runcing dan senjata,

             Tapi dengan ilmu, karya, dan iman kita terus menyulam masa depan.

    Wahai generasi penerus bangsa,

    Jangan biarkan semangat itu sirna.

    Kita lanjutkan api perjuangan,

    Menyala di hati terwujud dalam tindakan.

              Dari jejak lama itu,

              Kita belajar arti cinta yang tulus.

              Cinta pada negeri, pada persatuan,

              Yang tumbuh diantara luka dan harapan.

    Kini kita berdiri diatas warisan suci,

    Menatap masa depan dengan hati berani.

    Jejak perjuangan menjadi pijakan,

    Membentuk pilar untuk generasi penerus zaman.

             Wahai anak bangsa, bangkitlah bersama, 

             Sambung benang perjuangan merdeka.

             Dari jejak pahlawan yang tak lepas,

             Kita tenun masa depan yang gemilang

    Wahai anak bangsa, teruslah melangkah,

    Jaga semangat agar tak punah.

    Kerena setiap langkah yang kita bawa,

    Terdapat perjuangan yang tak pernah reda.

    penulis:

    Dwi Nur Shifa (X-2)

  • KOBARKAN NASIONALISME, MA AL QUDSIYAH KLOTOK PERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA

          KLOTOK, 28 Oktober 2025– MA Al-Qudsiyah Klotok menggelar apel peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober di lapangan sekolah. Acara yang dimulai pukul 07:00 WIB ini diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf sekolah. Bertindak sebagai pembina apel, Bapak Arif Syarifudin menyampaikan pidato yang membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme.

    Rangkaian acara apel dimulai dengan penghormatan kepada bendera merah putih, dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Sumpah Pemuda yang dibacakan oleh petugas apel. Suasana khidmat terasa saat seluruh peserta apel mengikuti setiap rangkaian acara dengan penuh perhatian.

    (doc. Apel Hari Sumpah Pemuda)

    Dalam pidatonya, Bapak Arif Syarifudin menekankan pentingnya momen Sumpah Pemuda sebagai pengingat akan perjuangan para pemuda dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Beliau juga mengutip kata-kata Presiden pertama RI, Soekarno, “Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncangkan dunia!” Kutipan ini diharapkan dapat memotivasi para siswa untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara. Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena berhasil mempersatukan berbagai elemen masyarakat untuk mencapai kemerdekaan.

    (doc. Apel Hari Sumpah Pemuda)

          Dengan adanya kegiatan ini, sekolah mengharapkan terbentuknya generasi muda yang memiliki rasa cinta tanah air dan semangat nasionalisme yang tinggi dan tumbuhnya motivasi siswa untuk terus berprestasi dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara.

         Melalui apel peringatan Sumpah Pemuda ini, diharapkan seluruh siswa MA Al-Qudsiyah Klotok dapat mengambil hikmah dan semangat dari para pemuda terdahulu untuk terus berkarya dan membangun Indonesia yang lebih baik.

    Penulis: Meyla Dinar Wulansari (XII-2)

  • DIGITAL WELLNESS: BUKAN ANTI TEKNOLOGI, MELAINKAN AKSI PENYELAMATAN DIRI

    Di era serba digital seperti sekarang, konsep digital wellness menjadi hal yang sangat penting untuk diterapkan. Digital wellness bukanlah bentuk penolakan terhadap teknologi, melainkan cara mengelola hubungan dengan dunia digital agar tetap sehat, seimbang, dan bermanfaat. Teknologi memang membawa banyak kemudahan, mulai dari komunikasi, hiburan, hingga pendidikan. Tetapi jika digunakan secara berlebihan atau tanpa kendali, justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental.

         Untuk itu, dalam menerapkan digital wellness perlu dimulai dari sekarang dengan langkah-langkah sederhana seperti berikut:

         Pertama, digital wellness berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Saat ini, banyak orang mengalami tekanan karena terlalu sering membandingkan diri dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Digital wellness mengajarkan kita untuk bijak dalam menerima informasi serta mengatur waktu penggunaan internet agar pikiran tetap tenang dan seimbang

          Kedua, digital wellness membantu mencegah kelelahan digital. Terlalu lama menatap layar dapat membuat mata lelah, sulit tidur, dan menurunkan konsentrasi. Karena itu, penting untuk memberi jeda bagi tubuh dan pikiran, misalnya dengan mengatur waktu istirahat, melakukan peregangan ringan, atau beraktivitas di luar ruangan.

          Ketiga, digital wellness mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan dunia nyata. Banyak orang lebih sering menatap layar daripada berbicara dengan orang di sekitarnya. Padahal, interaksi secara langsung menghadirkan kehangatan yang tak bisa digantikan oleh teknologi

          Selain itu, digital wellness membantu membentuk kebiasaan digital yang sehat sejak dini. Mulai dari memilih konten positif, menggunakan teknologi untuk belajar, hingga tahu kapan waktunya berhenti bermain gawai, semua itu menumbuhkan pola pikir yang lebih bijak terhadap teknologi.

    Pada akhirnya, digital wellness adalah langkah sederhana namun bermakna untuk menjaga diri dari dampak negatif teknologi tanpa menolak manfaatnya. Kini saatnya kita hidup lebih sadar, lebih seimbang, dan lebih bahagia di tengah derasnya arus digital.

    penulis: Dwi Nur Shifa (X-2

  • HENING DI TENGAH NOTIFIKASI

    Di layar yang tak pernah tertidur,

    Jariku bergerak tanpa arah

    Pesan dari teman, dan berita tentang kabar dunia berputar tapi hati mulai lelah

    Senyum di foto tampak nyata

    Namun jiwa dan hati kadang berpura-pura

    Berinteraksi tanpa bersuara

    Memang sunyi namun tetap terasa

    Mari jeda sejenak dari layar

    Hirup nafas, dengar hati berbicara

    Bukan dunia maya yang menentukan

     Namun hati damai yang kita pelihara

    Dalam kesunyian kita temukan makna

    Bahwa sehat bukan sekadar raga

    Namun pikiran dan hati yang tenang

    Suara dunia terproyeksi melalui media

    Menyajikan cerita baru tentang kehidupan yang tak ada ujungnya

    Kadang tenang, riuh, pilu, penuh gejolak emosi

    Tentang kisah hidup yang bukan milik kita

    Maka jagalah raga dan pikiran agar tetap sehat, tenang, dan tentram

    Agar tak goyah menghadapi kenyataan pahit dan manis yang akan berdatangan

    penulis:

    Galih Setyo Wibowo (XI-2)

  • KEHENINGAN DITENGAH DERU NOTIFIKASI

    Aku duduk termenung di bangku taman, menggenggam smartphone yang sudah tidak lagi menampilkan notifikasi baru. Deru kota yang biasanya memenuhi telingaku kini terdengar jauh, seperti suara ombak di pantai yang lembut.

    “Hey, apa yang terjadi? Kamu terlihat seperti tersesat di awan,” kata Luna, temanku yang duduk di sebelahku.

    Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku hanya merasa lelah, Lun. Semua ini terasa begitu banyak.”

    Luna mengangguk paham. “Notifikasi, media sosial, pesan instan… kadang aku merasa seperti aku tidak bisa bernapas tanpa semua itu.”

    Aku tahu apa yang dia rasakan. “Aku tahu apa yang kamu rasakan,” kata Luna. “Tapi terkadang aku merasa bahwa kita terlalu bergantung pada teknologi. Kita lupa bagaimana rasanya diam, bagaimana rasanya mendengarkan pikiran kita sendiri.”

    Aku terdiam, memikirkan kata-katanya. Apakah benar aku telah kehilangan kemampuan untuk diam? Apakah aku telah menjadi budak teknologi?

    “Kamu tahu, aku pernah membaca sebuah artikel tentang pentingnya keheningan,” kata Luna. “Penulisnya bilang bahwa keheningan dapat membantu kita menemukan diri kita sendiri, menemukan apa yang kita inginkan dalam hidup.”

    Aku mengangguk, merasa seperti ada sesuatu yang menyentuh hatiku. “Aku rasa aku perlu jeda sejenak, Lun. Jeda dari semua notifikasi, dari semua kebisingan.”

    Luna tersenyum. “Aku rasa kita berdua perlu itu.”

    Kami berdua duduk diam sejenak, menikmati keheningan yang menyelimuti taman. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada suara kendaraan yang berlalu-lalang. Hanya suara angin yang berhembus lembut di antara pepohonan.

    “Aku merasa lebih tenang sekarang,” kata Luna, memecahkan keheningan.

    Aku mengangguk setuju. “Aku juga. Aku lupa bagaimana rasanya merasa damai seperti ini.”

    Luna tersenyum. “Aku rasa kita harus melakukan ini lebih sering. Membuat jeda dari teknologi dan menikmati keheningan.”

    Aku tersenyum kembali. “Aku setuju.”

    Kami terus duduk di bangku itu, membiarkan matahari sore menyaring cahayanya melalui dedaunan pohon. Smartphoneku, yang masih ku genggam, kini terasa dingin dan asing. Bukan lagi sumber kegelisahan atau tuntutan, melainkan hanya sebongkah benda mati yang bisa kutaruh kapan saja.

    penulis:

    Siti Aminatus Zuhriyah (XI-1)

  • KESEDERHANAAN KITA ADALAH KEKUATAN: PESAN BPK. ACH. BAIDHOWI, S.Pd.I DI UPACARA HARI SANTRI YAYASAN AL QUDSIYAH

    Klotok, 22 Oktober 2025– yayasan Al-qudsiyah menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional dengan penuh khidmat. Upacara yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf sekolah ini dilaksanakan di halaman MI Husnul Aulad. Upacara dimulai pukul 07.30 WIB.

    Bapak Ach. Baidhowi, S.Pd.I selaku pembina upacara, menyampaikan amanat yang membangkitkan semangat para santri.

    Doc. Apel Hari Santri

    Dalam amanatnya, Bapak Ach. Baidhowi, S.Pd.I menekankan pentingnya memiliki hati yang besar dan semangat pantang menyerah. “Jangan pernah mempunyai hati yang kerdil. Jangan mau disifati oleh orang lain bahwa santri itu tidak berdaya,” ujarnya dengan penuh semangat.

    Beliau juga menambahkan bahwa kesederhanaan yang menjadi ciri khas santri bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan yang tak ternilai. “Kesederhanaan kita bukan karena tidak berdaya, kesederhanaan kita justru adalah kekuatan yang orang lain tidak bisa merebutnya,” lanjutnya.

    Doc. Apel Hari Santri

    Bapak Ach. Baidhowi, S.Pd.I menjelaskan bahwa dengan kesederhanaan, santri dapat menjadi diri sendiri, mandiri, dan kuat. “Dari kesederhanaan itu kita menjadi diri kita sendiri tanpa kurang tanpa lebih sehingga kita bisa menjadi kuat, berdiri tegak mandiri di atas kaki kita. Tidak dijajah, tidak berdasarkan bantuan orang lain, tapi berdasarkan kekuatan dari Allah dan ridha Allah atas kita,” tegasnya.

    Upacara peringatan Hari Santri Nasional ini diakhiri dengan doa bersama. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penampilan memukau dari paduan suara (padus) MA Al-Qudsiyah yang membawakan beberapa lagu, menambah semarak dan khidmat suasana.

    Doc. Apel Hari Santri

    Dengan mengadakan upacara Hari Santri, diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga menjadi santri, mempererat silaturahmi antar warga sekolah, meningkatkan semangat nasionalisme, menginspirasi generasi muda, serta melestarikan tradisi pesantren, sehingga membawa berkah dan semangat baru bagi seluruh santri di Indonesia.

    Penulis : Meyla Dinar Wulan Sari (XII-2)

  • MA AL QUDSIYAH KLOTOK KIRIMKAN DELEGASI TERBAIKNYA UNTUK BERLAGA DI MA’ARIF COMPETITION X TAHUN 2025

           Klotok – Madrasah Aliyah (MA) Al-Qudsiyah turut serta memeriahkan ajang Ma’arif Competition 2025 dengan mengirimkan delegasi terbaiknya untuk mengikuti berbagai cabang lomba. Kompetisi yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif kabupaten tuban ini menjadi wadah bagi siswa-siswi madrasah untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas di berbagai bidang.

     (doc. Bimbingan belajar persiapan MC X 2025)

    MA Al-Qudsiyah mengirimkan perwakilan untuk berbagai kategori lomba, mulai dari bidang akademik, seni, hingga olahraga. Dalam bidang akademik pelaksanaan lomba akan dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober, dan bidang seni pada tanggal 1-15 Oktober, serta bidang olahraga akan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2025 dilapangan Surajaya kecamatan Jenu. Berikut adalah daftar perwakilan MA Al-Qudsiyah dalam Ma’arif Competition 2025:

    NONAMACABANG  LOMBA
    1Ahmad Zidan Al-AbrorMatematika
    2Meyla Dinar Wulan SariBahasa Indonesia
    3Livia Haniyatus Sa’adahAswaja
    4Claudy Bella WidyasariPidato Bahasa Inggris
    5Ayunda Mahfia SyarifahPidato Bahasa Inggris
    6Siti Aminatus ZuhriyahPidato Bahasa Arab
    7Mufaridatul KhoiriyahPidato Bahasa Jawa
    8M. Idris JalaludinPidato Bahasa Indonesia
    9M. Syahrul RomadhonAtletik
    10Nur Shofa AlviatiAtletik
    11Perwakilan kelas X dan Kelas XIPaduan Suara

    (doc. Pengambilan vidio lomba MC X 2025 )

      Partisipasi dalam Ma’arif Competition memberikan banyak manfaat bagi sekolah, di antaranya meningkatkan motivasi belajar siswa, mengasah kemampuan dan keterampilan di berbagai bidang, serta mempererat tali silaturahmi antar sekolah NU. Selain itu, ajang ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan potensi sekolah kepada masyarakat luas dan meningkatkan citra positif sekolah di mata publik.

    Dengan semangat yang tinggi, MA Al-Qudsiyah berharap dapat meraih prestasi terbaik dalam Ma’arif Competition 2025 dan mengharumkan nama madrasah.

    penulis:

    Meyla Dinar Wulan Sari (XII-2)